ALPeN pRoSa JaTiM

Kurindu Kasih Sayangmu

Posted by: alpenprosajatim on: Mei 27, 2008

Oleh Siti Hosnati

“Apakah tidak ada hari baik untukku ? “ Sheila menggumam dalam hatinya.

Dia merasa tak pernah ada hari baik untuknya. Hari-harinya penuh dengan caci maki kedua orang tuanya. Sheila, anak perempuan yang seharusnya mendapatkan perhatian lebih dari ayah dan ibunya kini tergadaikan gara-gara sibuk dengan urusan bisnisnya. Sheila berpikir, cara apakah yang terbaik untuk menyenangkan hati kedua orang tuanya, karena dia merasa selama ini pengorbanan yang ia lakukan sia-sia dan tidak ada artinya.

“She! Seharusnya kau bisa seperti kakakmu, Bintang, punya nilai dan prestasi yang bagus. Sekarang kau lihat saja kakakmu itu, bisa masuk Universitas Gajah Mada di Yogya. Dia nanti pasti bisa meneruskan bisnis keluarga kita,” kata-kata ayah masih terngiang di hati Sheila.

Selama ini Sheila memang tak pernah memberikan nilai yang memuaskan, bahkan kerap kali Sheila mendapatkan angka lima yang diakhiri dengan amarah ayahnya. Hari ini buruk sekali. Batin Sheila mengatakan ada sesuatu yang tidak enak dalam dirinya. Tiba-tiba perasaan itu buyar gara-gara terdengar teriakan dari ibunya.

“Sheila… ayo cepat bangun! Nanti kamu terlambat ke sekolah” teriak ibunya.

Sheila mencoba membuka mata dan segera ia bergegas ke kamar mandi. Tapi langkahnya terhenti ketika dia menemukan beberapa baut dan mur yang berserakan di lantai. Dia sadar tadi telah melempar jam wekernya waktu setengah bangun. Yang Sheila sayangkan adalah jam weker itu pemberian temannya, Radit.

Radit memberi hadiah itu ketika Sheila berulang tahun yang ke tujuh belas. Sheila memungutnya dan meletakkan jam weker yang rusak itu ke dalam laci.

Sheila bergegas keluar dari kamar itu karena waktu sudah siang. Tanpa sarapan, Sheila berangkat ke sekolah. Di tengah jalan, dia melamun dan tidak memperhatikan lampu lalu lintas berwarna merah. Pikirannya terpecah ketika ia mendengar sirine polisi mengejarnya dari belakang. Hari ini benar-benar buruk, kali ini Sheila harus mengorbankan uang sakunya untuk membayar denda karena dia melanggar rambu lalu lintas. Dia pun melihat jam tangannya jam tujuh kurang sepuluh menit.

Sheila dan berusaha secepat mungkin sampai di sekolah. Yang ada di benaknya saat ini adalah sampai di sekolah secepatnya karena jam pertama ada ulangan matematika dan guru pengajarnya benar-benar tepat waktu.

Tapi usaha Sheila untuk tepat waktu sampai di sekolah sia-sia saja. Pak satpam sudah menutup pintu gerbang. Dengan segala usaha Sheila membujuk satpam sekolah supaya membuka pintu gerbang untuknya.

“Mbak She ini, gimana? Sekolah sudah masuk lima belas menit yang lalu, lah mbak She malah baru datang.” omel pak satpam sambil membuka pintu gerbang.

“Maaf deh,Pak? Lain kali saya tidak telat lagi deh!” jawab She singkat, sambil membawa sepedanya masuk ke parkiran.

Segera Sheila menuju ke kelasnya. Suasananya sepi seperti tanpa penghuni. Sheila melihat di ruang kelasnya ternyata ujian sudah di mulai. Dia mencoba mengetuk pintu dan masuk ke ruang kelas.

”Maaf Pak, saya telat,” kata Sheila sedikit gugup.

“Kamu ini She, selalu saja terlambat. Bisa nggak bapak sekali-kali melihatmu masuk kelas tepat waktu ?” omel Pak Ridwan, guru matematika Sheila.

“Maaf Pak,” ucap Sheila singkat.

“Cepat duduk!” suruh Pak Ridwan.

Sheila pun bergegas ke tempat duduknya. Pak Ridwan menyodorkan kertas ulangan berisi sepuluh soal. Soalnya kelihatan sulit-sulit. Dengan sisa waktu yang tersisa Sheila mencoba mengisi soal-soal itu. Tapi apakah daya, waktu memang tak bisa dihentikan. Belum sampai Sheila menyelesaikan semua soalnya, bel pergantian jam berbunyi. Mau tidak mau Sheila harus mengumpulkan kertas lembar jawabannya. Sheila yakin hasil ulangannya kali ini akan berbuah omelan dari ayah, karena dari keseluruhan soal yang dia kerjakan Sheila tak yakin satu pun ada yang benar.

***

Lamunan Sheila terpecah saat sound sekolah terdengar. Pengurus OSIS khususnya seksi kerohanian diharuskan berkumpul di ruang OSIS. Sheila adalah salah satu anggota dari panitia acara di sekolahnya. Acara yang digelar diantaranya adalah lomba MTQ (Musabaqah Tilawatil Quran), lomba baca puisi Islami, dan beberapa perlombaan lainnya. Sheila sendiri diwajibkan ikut.

Acara yang diadakan untuk mengasah kreasi anak muda ini benar-benar membuat tenaga Sheila terkuras habis. Sejak jam ketiga hingga jam terakhir Sheila terus berperan aktif dalam acara. Hingga saat bel tanda pulang berbunyi, Sheila terus bekerja, sampai-sampai guru pembina menyuruhnya beristirahat dan segera pulang karena menurut gurunya acara masih satu hari lagi.

Setelah menerima undangan untuk wali murid, Sheila pulang dengan harapan ayahnya akan mau menghadiri acara itu.

***

“Ayah, Ibu, She pulang!” Sheila memecahkan keheningan rumah.

Bukan Ayah dan Ibu yang menyambutnya Sheila. Dari dapur Mbok Juminten tergopoh-gopoh menghampirinya.

“Maaf Non, Bapak dan Ibu sedang tidak ada di rumah. Tadi beliau berpesan kalau Non She pulang, tidak usah menunggu. Karena Bapak dan Ibu kerja lembur malam ini,“ Mbok Juminten, pembantu rumah tangga dirumah Sheila menyampaikan pesan dari Ayah dan Ibu Sheila.

Hati Sheila terpukul, dia tidak bisa menyerahkan undangannya langsung pada ayah dan ibunya. Awalnya, Sheila ingin melihat raut wajah orang tuanya, apakah mereka senang atau malah akan berbuah kemarahan ayah lagi. Sheila meletakkan undangan itu di meja kerja ayahnya. Berharap ketika ayahnya pulang ayah bisa membaca isi undangan tersebut.

Dengan langkah berat Sheila meninggalkan ruang kerja ayahnya dan bersantai di pinggir kolam renang. Dia berpikir seolah-olah dia adalah anak terbuang, tak pernah mendapatkan kasih sayang. Sheila ingin seperti remaja-remaja lainnya, diperhatikan, diberi kasih sayang, tapi yang Sheila rasakan hanya kehampaan dan rasa dibanding-bandingkan dengan kakaknya Bintang yang memiliki prestasi dan nilai akademik yang bagus.

Kenapa aku harus dilahirkan di dunia ini ? Aku seakan tidak di harapkan oleh orang tuaku. Bisnis, bisnis apa? Yang ada hanya aku merasa dikucilkan karena tidak bisa memberikan apa yang mereka inginkan. Prestasi di luar akademik mereka anggap itu semua tidak berguna, lalu apa yang membuat mereka senang?” batin Sheila menangis.

Sheila tersentak. Dia ingat kata-kata kakaknya sebelum pergi meneruskan pendidikan di Universitas yang menantang Sheila tuk berebut kasih sayang dari kedua ortunya. Waktu itu pikirannya sangat kacau dan bimbang. Di saat ia perlu diperhatikan oleh kakaknya karena tak mendapatkan dari ayah dan ibunya, malah kakaknya pun ikut bersikap jutek padanya. Seharian itu Sheila merenungi semua yang terjadi dalam hidupnya bahkan hingga adzan maghrib berkumandang pun ia tetap memikirkannya.

Malamnya Sheila tidak bisa tidur sampai pukul 00.00 WIB. Sesekali dia menengok kearah jendela berharap orang tuanya kembali pulang. Akan tetapi, penantian Sheila tak berbuah hasil sampai pukul dua dini hari. Ayah dan ibunya tak juga datang. Akhirnya Sheila putuskan untuk tidur dan tidak lagi berusaha menunggu orang tuanya. Sheila pun terlelap dalam tidurnya.

Keesokan harinya tepat jam setengah lima pagi Sheila kembali membuka tirai jendela, berharap orang tuanya telah datang dan mau mendengar segala keluh kesahnya. Raut muka Sheila berangsur cerah ketika dilihatnya mobil orang tuanya sudah ada dalam bagasi. Sheila mengambil seribu langkah menuruni tangga rumahnya.

“Yah? “ sergah Sheila.

“She, Ayah usahakan nanti malam datang” jawab ayah Sheila.

Sheila hanya bisa pasrah, berharap kedua orang tuanya datang ke acara di sekolahnya. Tapi mungkin itu tidak ada artinya bagi kedua orang tuanya karena yang ada di benak mereka hanya bisnis dan bisnis.

Akhirnya Sheila memutuskan untuk segera shalat Shubuh dan menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk acara nanti malam. Sebelum pergi ke sekolah, terlebih dahulu dia pergi ke ruang kerja ayahnya. Ia berharap ayahnya mengucapkan selamat jalan dan semoga berhasil pada Sheila. Tapi, raut muka Sheila berubah mendung kembali ketika dilihatnya sobekan undangan yang kemarin ditaruh Sheila di meja kerja ayahnya.

“Rasanya percuma meminta ayah untuk datang menghadiri acara itu!” batin Sheila kecewa.

Sheila pasrah dan segera pergi ke sekolah. Harapan yang pupus melihat sobekan kertas undangan tadi membuatnya ciut dan tak memiliki rasa percaya diri lagi.

***

Sampai disekolah Sheila sibuk dengan berbagai persiapan acara yang deadlinenya tinggal beberapa jam lagi. Kegiatannya disekolah seakan tidak memberi waktu pada Sheila untuk memikirkan masalah pribadinya.

Malam pun tiba. Acara yang selama beberapa hari ini menguras tenaga dan pikiran Sheila pun dimulai tepat pukul tujuh malam. Harap-harap cemas, Sheila menunggu kehadiran kedua orang tuanya. Tapi, lagi-lagi penantian Sheila pupus. Orang tuanya tak kunjung datang sampai tiba giliran Sheila untuk tampil. Akhirnya Sheila menjalani malam terakhir acara itu tanpa didampingi kedua orang tuanya. Sheila iri dengan teman sebayanya yang lain, yang berlomba dengan didampingi dan diberi semangat oleh kedua orang tuanya.

Malam kian larut, pengumuman pemenang akan segera diumumkan. Ternyata Sheila juara pertama dalam MTQnya. Walaupun tidak ada hubungannya dengan bisnis kedua orang tuanya, setidaknya ini prestasi yang patut dibanggakan. Sheila mendapatkan tropi gubernur dan sejumlah uang dari pihak sekolah, Sheila berharap ini adalah awal dari segala kesuksesannya.

Saat Sheila asyik berkumpul dengan teman-temannya, ia memutuskan untuk kembali pulang dan ingin cepat-cepat menyerahkan tropi gubernur kepada kedua orang tuanya. Sheila tahu reaksi apa yang akan diberi kedua orang tuanya terhadap prestasi yang patut di banggakan ini.

***

Sampai dirumah Sheila segera membuka pintu ruang keluarga. Seperti biasanya, jam tengah malam kedua orang tuanya masih mengerjakan semua pekerjaan bisnisnya.

“Ayah, Ibu, She juara,” teriak Sheila.

Suasana rumah senyap. Tak ada suara menyapa Sheila tatkala ia senang. Hanya Mbok Juminten yang tampak waktu itu.

“Non She ! Bapak dan Ibu ke Yogyakarta menemui Den Bintang.” sapa Mbok Juminten.

Sekali lagi, hati Sheila terpukul.

“Tengah malam begini, Ayah dan Ibu rela berkorban pergi ke Yogyakarta demi kak Bintang? Sementara menghadiri acara di sekolahku saja ayah tidak mau!” keluh Sheila.

Sheila meletakkan tropi gubernur di atas meja kerja ayah sambil menangis menuju kamar tidurnya.

“Ini semua korban kapitalisme! “ teriak Sheila tuk melepaskan dari rasa gundahnya.

Sheila teringat dengan guru agamanya yang mengatakan kalau sistem kapitalisme sekarang menjauhkan manusia pada aturan agama Islam. Standar kehidupan dinilai dari materi. Banyak keluarga yang meninggalkan amanahnya untuk mendidik, merawat, menyayangi dan memberikan kasih sayang pada anaknya karena demi untuk mendapatkan uang banyak. Para ibu banyak yang memilih menjadi wanita karir sehingga tugas sebagai Ummun wa Rabbatul Bait tergadaikan karena urusan di luar rumah yang menuntut ia meninggalkan urusan dalam rumah.

Sheila merenungi kata-kata dari gurunya itu. Batinnya mengatakan kalau ia adalah korban dari ibunya yang telah menyukseskan program pemberdayaan perempuan perspektif kapitalisme yang merupakan strategi penghancuran agama Sang Kholiq melalui kehidupan keluarga muslim.

***

Pagi-pagi sekali Sheila sudah berangkat ke sekolah. Ia bergegas lari mencari guru agamanya untuk menceritakan masalah yang selama ini menimpanya. Ia berpikir mungkin curahan hati pada beliau bisa mengurangi rasa kesal pada kedua orang tuanya.

Usaha Sheila menemui Bu Nisa berhasil.

Bu Nisa, sering jadi tempat curhat siswa.

“Wanita adalah pengurus rumah tangga suaminya dan anaknya. Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan dimintai tanggungjawab terhadap kepemimpinannya. Begitu hadis riwayat Bukhari,” Bu Nisa menjelaskan pada Sheila.

Guru yang terkenal bijak menjelaskan, maksud hadist itu adalah peran utama kaum ibu adalah sebagai pengatur rumah tangga dan sekaligus pendidik pertama dan utama bagi buah hatinya. Bu Nisa juga menegaskan kalau Sheila belum mendapatkan perhatian dari sang ibu, ini disebabkan karena aktivitas ibu di luar rumah sangatlah padat sehingga lupa akan tugas utamanya. Kondisi seperti ini sangat riskan dalam sistem kapitalistik. Materi kadang menuntut para ibu untuk bekerja untuk memenuhi kehidupan yang semakin meningkat.

Guru dan murid kelihatan akrab sekali membicarakan permasalahan yang telah terjadi. Solusi Bu Nisa, supaya Sheila menyadarkan orang tuanya tentang amanahnya terhadap anak.

“Sheila, kamu cari waktu yang pas untuk membicarakan masalah ini!” kata Bu Nisa lembut.

Sheila mengangguk. Di hatinya tumbuh banyak harapan.

***

Saat berada di rumah, hati Sheila mulai tenang. Dia memikirkan bagaimana caranya menyampaikan informasi yang selama ini didapat dari guru kesayangannya itu.

Sheila mendengar kabar kalau di Yogyakarta, ayah dan ibunya sedang berdebat dengan aparat kepolisian. Bintang, kakaknya meringkuk dibalik jeruji tahanan polisi. Sesekali kedua orang tua itu menitikkan air mata, kecewa akan anaknya yang di bangga-banggakan sebagai anak yang berbakat meneruskan bisnis keluarga, sekarang mendekam dibalik jeruji tahanan karena sedang pesta minuman keras dan narkoba.

Kondisi ini dimanfaatkan oleh Sheila untuk menjelaskan tentang konsep yang didapat dari guru agamanya di sekolah. Dengan usaha dan kesabaran Sheila, akhirnya kedua orang tuanya sadar kalau selama ini tidak bisa berbuat adil pada anaknya.

Mereka menyadari telah lalai dari tanggungjawab sebagai orang tua yang seharusnya menjadi teladan bagi anak-anaknya. Tapi mereka bersyukur karena di balik peristiwa ini terkandung hikmah yang luar biasa, yakni selain mempunyai anak yang solehah juga mendapatkan anugerah yang tidak bisa ditukar dengan materi yang dianggap selama ini nomor satu dari aktivitas yang ditekuninya.

Mereka berdua menyadari kalau selama ini terlalu sibuk dengan urusan bisnisnya, sampai-sampai amanah untuk merawat dan mendidik anaknya terbengkalai. Sheila bernapas lega. Akhirnya rasa rindu akan kasih sayang orang tuanya, kini telah berlabuh.

***

Catatan :

Ummun wa Rabbatul Bait : Ibu sebagai pengatur rumah tangga

Penulis adalah anggota Aliansi Penulis Pro Syariah (AlPen ProSa) Madura – Jawa Timur

Tag:

Tinggalkan Balasan