PUJI YULI KUSUMA NINGRUM, SPd
Bulan Mei identik dengan peringatan hari pendidikan nasional maupun hari kebangkitan nasional. Dari tahun 1908 sampai tahun 2008, Indonesia sudah menyongsong 100 tahun kebangkitan nasional mulai pada era orde lama, orde baru bahkan orde reformasi. Dalam perayaan 100 tahun kebangkitan nasional, kondisi negara Indonesia justru memprihatinkan. Itulah mungkin kata yang paling tepat menggambarkan wajah negara Indonesia kini. Indonesia saat ini menyongsong perayaan 100 tahun kebangkitan nasional. Meskipun telah lebih 60 tahun merdeka dari penjajahan tetapi rakyat belum terbebas dari berbagai kesulitan, hidup dirasakan semakin berat walaupun hanya untuk sekedar mencukupi kebutuhan sehari hari. Sungguh tragis dan ironis nasip rakyat
Apakah Indonesia saat ini sudah bangkit?? itu mungkin pertanyaan yang terlontar dari banyak pihak ketika melihat potret wajah indonesia berikut ini:
Kelaparan, anak kurang gizi dan busung lapar : Dimakasar, seorang ibu yang sedang hamil 7 bulan dan anaknya berusia 5 tahun meninggal karena kelaparan (Metrotv, 1/3/2008). Ini menunjukkan ada masalah pada kemampuan daya beli masyarakat yang semakin rendah sementara harga semua kebutuhan pokok melonjak terus sehingga kebutuhan gizi tidak lagi diperhatikan oleh masyarakat. Yang paling serius terkena dampaknya adalah anak anak. Di Temanggung Jawa tengah terdapat 299 anak menderita gizi buruk akut. sebagian besar dari mereka belum tertanggani karena minimnya fasilitas pelayanan (Metrotv, 9/3/2008). Selain gizi buruk, anak anak Indonesia juga terkena penyakit busung lapar karena kurang makan.
Kemiskinan dan Penggangguran : Jumlah rakyat miskin dan penggangguran di Indonesia sangat banyak dan cenderung mengalami peningkatan meskipun berbagai usaha telah dilakukan. Mantan menteri perekonomian Rizal Ramli memprediksikan bahwa angka kemiskinan dan penggangguran meningkat tahun 2008 ini, padahal selama tiga tahun terakhir anggaran untuk kemiskinan naik 2,8 kali tetapi jumlah orang miskin semakin meningkat (Metrotv, 27/12/2007). Kemiskinan semakin parah dengan tingginya tingkat penggangguran. Angka pengangguran terbuka di Indonesia terdata 10,28% dan setengah menganggur 29,1%. Ini artinya sekitar 39,98% angkatan kerja tidak memiliki pekerjaan yang aman. Bila angkatan kerja diperkirakan berjumlah sekitar 100 juta orang berarti hampir 40 juta orang mengganggur. Mereka yang aman telah memiliki pekerjaan pun rata rata hanya mendapatkan pendapatan bersih Rp.759.999 perorang perbulan. Bandingkan dengan kebutuhan hidup minimum Rp.719.834 perorang perbulan. Sementara itu, upah minimum propinsi dipatok lebih rendah dari itu yakni Rp.602.702 perorang perbulan (BPS: indikator kunci indonesia 2007). Semakin banyak jumlah angka kemiskinan dan penggangguran itu berpotensi untuk meningkatkan angka kriminalitas maupun pelanggaran hukum dan agama untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti pencurian ataupun perampokan.
Kenaikan harga : Beban hidup rakyat miskin semakin berat dengan naiknya harga harga kebutuhan pokok maupun kenaikan harga BBM. sejak keputusan pemerintah yang menaikkan BBM pada Oktober 2005, tidak ada satupun komoditas yang tidak mengalami kenaikan. Beras, minyak tanah, minyak goreng maupun tempe tahu semuanya naik secara tajam. Kenaikannya bukan sepuluh atau lima belas persen tetapi hingga seratus persen. Bahkan saat pemerintah berencana menaikkan harga BBM pada bulan Juni 2008, rakyat semakin sulit untuk mendapatkan premium. Belum sampai kebijakan untuk menaikkan harga BBM dilaksanakan, disejumlah daerah premium menjadi langka. Di Tana Toraja, harga premium meroket hingga Rp.50.000 per satu liter (Metrotv, 27/2/2008).
Korupsi : Korupsi saat ini semakin marak terjadi di kalangan pejabat dan masih menjadi problem akut buat negara Indonesia. Korupsi telah merusak sendi sendi utama keuangan negara dari segi APBN maupun APBD untuk raktyat dan pembangunan. Bagai fenomena gunung es, korupsi di Indonesia sudah tidak bisa lagi diperkirakan ukurannya sangat besar mencapai trilyunan rupiah. Tragisnya, para pejabat penegak hukum yang harusnya berdiri di baris paling depan dalam pemberantasan korupsi ternyata malah juga ikut korupsi. Penyelidikan kasus BLBI yang telah merugikan negara total RP.431,6 trilyun dihentikan oleh kejaksaan agung. Ternyata belakangan diketahui bahwa ketua tim penyelidikan kasus BLBI Urip Tri Gunawann tertangkap basah oleh KPK pada tanggal 2 Maret 2008 sedang menerima suap 660 ribu dollar di rumah Syamsul Nursalim, salah seorang obligor besar BLBI (Jawapos, 3/3/2008).
Selain persoalan diatas, ditambah dengan meningkatnya kerusakan moral, maraknya penyebaran aliran sesat seperti ahmadiyah juga maraknya pornoaksi maupun pornografi. Tampak sekali bahwa pemikiran rakyat maupun pejabat semakin merosot tajam. Dengan rendahnya proses berfikir rakyat dan pejabat untuk mengatasi problematika sosial maupun ekonomi akan menghambat untuk kemajuan pembangunan dan kebangkitanm nasional.
Mengingat betapa kronisnya potret Indonesia saat ini. Maka kita sekali lagi patut bertanya apakah indonesia sudah bangkit? Apakah rakyat dan pejabat Indonesia sudah bangkit??? Apakah Indonesia saat ini patut merayakan kebangkitan secara meriah dan mewah??? Untuk itulah rakyat dan pejabat Indonesia perlu instrospeksi dan meningkatkan ketinggian taraf berfikir secara cemerlang untuk bisa bangkit dan menjadi negara yang maju.
* guru SMK Patria babat
* anggota aliansi penulis pro syariah (alpen prosa) lamongan
Komentar Terakhir