Posted by: alpenprosajatim on: Maret 22, 2008
Desi Puji Lestari*
Melambungnya harga kebutuhan pokok yang terjadi di Indonesia menjelang akhir tahun 2007 menyisakan beberapa persoalan yang tak kunjung selesai di tangani pemerintah, bahkan kenaikan harga merembet pada beberapa kebutuhan lainnya. Di awali dengan kelangkaan minyak tanah pada akhir tahun 2007 lalu sebagai akibat melonjaknya harga minyak dunia yang kini telah mencapai 105 dollar AS per barrel, para analis mengungkapkan bahwa hal ini mau tidak mau akan memicu kenaikan beberapa harga komoditas pokok di awal tahun, di antaranya harga kedelai dan terigu yang terus membumbung tinggi sejak desembar lalu, meski pemerintah telah menyiapkan anggaran khusus agar kenaikan harga minyak dunia tidak mempengaruhi daya beli masyarakat.
Seperti yang di ungkapkan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dan Menteri Perindustrian Fahmi Idris, bahwa kenaikan harga komoditas sangat terasa di luar pulau Jawa, untuk itu pemerintah akan lebih fokus pada investasi infrastruktur, khususnya di luar Jawa. Minimnya akses ke pelabuhan atau rusaknya jalan serta musibah yang melanda akhir-akhir ini membuat pasokan bahan baku dari daerah ke kota atau sebaliknya terhambat, akibatnya beberapa harga komoditas barang melonjak. Untuk itu pemerintah akan mulai membenahi masalah infrastruktur dengan cara mengundang investasi asing untuk bergabung. .(DFM News 12/1/2008).
Menurut ketua umum Aptindo Franciscus Welirang, harga terigu terus meningkat hingga mencapai 30% sampai kuartal I tahun ini, dari harga Rp 3.500 kini telah mencapai Rp. 6000 per kg (Bisnis Indonesia/15/1/08). Sedangkan harga kedelai yang semula dalam kisaran Rp 3.100 per kg kini menyentuh level Rp 7.500 per kg (sby pos/12/1/08)
Kenaikan harga yang terjadi pada kedelai dan terigu yang terus meroket telah menyebabkan daya beli masyarakat terhadap tempe yang notabene sebagai makanan alternatif dikala mahalnya ikan semakin menurun. Di lain pihak tingginya biaya produksi karena naiknya harga tepung terigu membuat sebagian masyarakat menahan diri untuk mengkonsumsi roti, hal ini membuat produsen roti skala UKM berhenti berproduksi, kalaupun masih dapat bertahan mereka terpaksa melakukan efisiensi karyawan.
Lebih lanjut para ekonom mengatakan bahwa selain sulitnya pasokan impor karena banyaknya kedelai yang di serap sebagai bahan baku bio fuel serta terjadinya cuaca buruk di beberapa Negara pengimpor,seperti Australia,Jerman dan Negara-negara Eropa lainnya, juga diperparah dengan ketergantungan kita terhadap kedelai impor yang masih sangat besar. Dari 2,2 juta ton kebutuhan dalam negeri baru 1,1 juta ton yang mampu di sediakan pasokan dalam negeri (SbyPos/12/1/08).Di lain sisi kedelai impor masih memikat hati para produsen tempe dan tahu karena harganya jauh lebih murah dibandingkan produksi dalam negeri.
Kenaikan harga pada komoditas pokok dalam negeri merupakan fenomena yang tak dapat dielakan lagi bagi masyarakat, suka tidak suka masyarakat harus mengikuti kondisi ini, konsekwensinya mereka harus mengencangkan ikat pinggang agar dapat bertahan hidup. Jika pemerintah tidak segera mengambil kebijakan yang dapat menstabilkan harga komoditas pokok, dikhawatirkan kondisi ini akan menjadi sumber permasalahn baru, yaitu meningkatnya jumlah masyarakat miskin dan rendahnya kualitas kesehatan masyarakat akibatkan gizi buruk.
Pemerintah sebagai pemegang kebijakan harusnya lebih arif dan bijaksana ketika mengambil kebijakan meniadakan bea masuk impor kedelai sebagai solusi untuk menstabilkan harga. Pertama, hal ini akan menjadi kebijakan yang dilematis, di satu sisi petani akan dirugikan dengan adanya kebijakan impor, di lain sisi jika impor tidak di lakukan maka produsen tempe dan tahu akan terhimpit dengan meningkatnya biaya produksi, maka masyarakat sebagai konsumenlah yang akan terkena imbasnya.
Kedua, jika kebijakan di hapuskannya bea masuk kedelai di barengi dengan subsidi dari pemerintah untuk mempertahankan harga kedelai dalam negeri (melindungi petani), lagi-lagi masyarakat yang menjadi korban karena subsidi akan di bebankan pada masyarakat, alih-alih jika pemerintah mengambil subsidi dengan menaikan harga BBM yang justru akan semakin memberatkan beban masyarakat, ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula.
Meski menigkatnya kebutuhan akan bio fuel dan cuaca buruk ikut melatarbelakangi naiknya harga kedelai tapi kalau kita mau kritis dengan apa yang terjadi maka kenaikan harga kedelai ini tak terlepas dari permainan asing yang ingin memasukan kedelainya ke Indonesia setelah kedelai Transgenik yang di produksi Amerika di tolak masuk ke negara-negara Eropa karena di anggap membahayakan kesehatan. Jika di runut peristiwa sejak naiknya harga kedelai pada awal tahun 2008 yang kemudian di sertai kebijakan penghapusan bea masuk impor kedelai, tak berselang satu minggu kedelai Transgenik dari Amerika Serikat telah beredar di Madiun, Ngawi dan sekitarnya.Ternyata kedelai-kedelai impor itu telah bersandar di pelabuhan cukup lama menunggu di hapuskannya bea masuk impor kedelai.
Inilah permainan kapitalisme yang tak mau dirugikan dalam setiap dollarnya, melalui pasar bebas dan globalisasi yang di dengung-dengungkan barat sebagai salah cara untuk menguasai perekonomian dunia, siapa yang kuat dialah pemenangnya sedangkan yang kalah hanya akan menjadi buruh di negeri sendiri, itulah gambaran Indonesia yang tak bisa lepas dari ketergantungan asing sebagai pemilik modal. Jika hal ini terus dipelihara oleh pemegang kebijakan maka negara kita hanya akan menjadi tempat pembuangan (tempat sampah) dari Negara-negara asing, seperti ketika masuknya kondom bekas ke Indonesia.
Indonesia di karuniakan alam yang subur dan kaya akan bahan tambang namun kesemuanya itu akan menjadi sia-sia ketika pengelolaannya diserahkan pihak asing, sedangkan sumber daya manusia Indonesia hanya menjadi pekerja. Ironinya justru sistem pendidikan kita melanggengkan fakta tersebut dengan hanya mencukupkan pendidikan dasar siswa pada life skill saja di kala semakin mahalnya pendidikan tinggi.
Semuanya tak terlepas dari pengaruh kapitalis yang telah melingkupi seluruh aspek kehidupan masyarakat, termasuk kebijakan politik pemerintah yang selalu tergantung pada pihak asing. Selama kita masih mengharapkan bantuan asing dalam pengelolaan kehidupan jangan harap kita akan merasakan kesejahteraan, karena kapitalis sejati tak akan mengeluarkan sedollarpun tanpa keuntungan yang didapat.
Untuk itu ketergantungan akan kedelai impor harus ditangani dengan serius karena hanya dengan mengandalkan pasokan impor yang menyebabkan harga komoditas kebutuhan pokok masyarakat fluktuatif, bergantung pada perdagangan International yang tidak lain dan tidak bukan di pengaruhi kekuatan dollar, jika hal ini tetap di jadikan sebagai solusi maka perekonomian kita akan terus mengalami ketidakstabilan.
Meningkatkan hasil produksi kedelai dalam negeri sejatinya menjadi sebuah kebutuhan yang harus segera direalisasikan. Pemerintah sebagai pengatur kebijakan harus dapat menciptakan kondisi yang mendukung petani agar kebutuhan kedelai dalam negeri dapat terpenuhi, dengan menstabilkan harga pupuk dan bibit tanaman kedelai maka petani tidak akan diberatkan dengan biaya produksi sehingga harga kedelai dapat memberikan keuntungan yang cukup pada petani namun juga tidak memberatkan daya beli masyarakat.
Sudah saatnya Indonesia bergandeng tangan melepaskan ketergantungan asing dan membuang jauh-jauh kapitalis dari sendi-sendi kehidupan, potensi sumber daya alam dan kualitas manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa akan mampu mengelola bangsa ini lebih baik tanpa campur tangan asing, tentunya dengan sebuah aturan yang sesuai dengan fitrah manusia dan mampu menyelesaikan permasalahan tanpa menambah masalah baru.
Komentar Terakhir